0


Kami kemudian membubarkan diri meninggalkan Lukman –sendirian –yang tentu saja kuyakin tengah kebingungan. Kami memasuki rumah seolah tak terjadi suatu apapun. Terik yang menyengat memaksa kami tinggal di dalam rumah daripada tenggorokan haus terpanggang matahari.
Waktu sejenak berlalu. Pikiran kami melupakan Lukman. Hawa kian panas-kian panas. Pancaran matahari menguapkan cairan di tenggorokan. Hingga kemudian –aku yang sedang berbaring bertelekan bale bambu dikejutkan teriakan bersahut-sahutan dari luar rumah.
“mendung, Ki ! mendung tebal ! sebentar lagi hujan !”
“keluarkan semua gentong ! keluarkan wadah penampung air yang kalian miliki ! hujan datang sebentar lagi !”
Darahku terkesiap. seketika aku bangkit dan berlari ke luar rumah. Kudongakkan kepalaku ke langit. Mendung tebal. Hidungku mencium aroma air.
“Lukman .. pastilah Lukman. Bagaimana mungkin anak semuda itu bisa teramat sakti,” dadaku bergetaran saat menggumam. Kakiku tak tertahan lagi untuk sesegera mungkin menuju areal sumber air.
Ajaib. Saat itulah kusaksikan keajaiban luar biasa. Dengan pakaian serba hitam, Lukman tersungkur dan menangis. Dia melakukan gerakan-gerakan tertentu sambil .. kurasa menggumam sebuah mantera. Angin berhembus kencang. Halilintar sesekali menggelegar memecah langit. Hingga setelah tangannya selesai menengadah, dentik hujan pun turun dengan derasnya.
“terima kasih, Tuhan. Terima kasih. Tak ada yang terjadi kecuali dengan ijinMu,”
Lamat-lamat kudengar ucapan Lukman sebelum mengusap telapak tangan ke wajahnya. Aku lantas bergerak menghampirinya.

Hujan bergitu deras tertumpah menyimbahi bumi. Membasahi ranting dan daun. Tak terasa hawa dingin. Tak terasa hawa badai. Hatiku terasa sejuk. Serasa kering kerontang puluhan bulan terhapus kesegaran air langit.
“Anakku, Lukman,” panggilku lembut. Ia menoleh dan menatapku teduh.
“Ki Tarmuji,” sahutnya santun. Ia kemudian bangkit dari simpuhnya.
“terima kasih, Nak. Kau selamatkan kampung ini dari kekeringan. Kedatanganmu kemari menjawab upaya yang telah kami lakukan selama ini,” aku mengucap seolah mengaku kalah.
“tak ada yang mampu menghentikan Tuhan jika Dia sudah berkehendak, Ki. Hanya kepadaNya kita selayaknya berharap,” begitu timpalnya kepadaku. Luar biasa. Tak ada nada kesombongan.
“cara apakah yang engkau lakukan hingga danyang-danyang mau menuruti keinginanmu, Nak ?” tanyaku
“mohon maaf. Ki. Saya tak meminta hujan kepada mereka. Saya pun tak menyertakan nama mereka dalam doa,”
“bagaimana bisa, Nak. Kalau begitu kau pasti merapal mantera sakti yang membuat mereka takluk,”
“demi Allah tidak, Ki. Saya tidaklah berbuat demikian. Saya hanya berdoa dengan cara yang saya percayai,”
“kalau begitu, bolehkah aku minta ajar kepadamu ?”
“tentu, Ki. Ki Tarmuji harus tahu. Bahkan nantinya Ki Tarmuji-lah yang harus memimpin para penduduk melakukan permohonan hujan seperti yang saya lakukan,”
Hatiku berdesir lembut mendengar kata-kata Lukman. Aku tersentuh kesantunannya.
Anak muda itu lantas mengajariku apa-apa yang dinamakannya shalat Istisqa’, setahap demi setahap. Dia mengajariku dan mengartikan doa-doa dengan sabar. Hingga setelah selesai, Lukman mohon undur diri untuk menyelesaikan tugasnya di suatu tempat. Lukman meninggalkanku, meninggalkan kampungku, tanpa sempat menerima ucapan terima kasih dari penduduk yang tengah berpesta-pora.
Gentong dan wadah air penuh tertumpah. Mengaburkan kesadaran kepada siapa para penduduk seharusnya berterima kasih. Aku termangu. Kesepian. Melarung kebingunganku mencerna rentetan peristiwa yang baru kuhadapi. Hingga kemudian, saat otakku mencoba mengait-ngait pemahaman,

“Ki Tarmuji !  Ki Tarmuji !” teriak seorang lelaki yang disertai beberapa penduduk. Langkah mereka cepat. Wajah mereka gembira bukan kepalang.
“terima kasih, Ki. Sesajian yang Ki Tarmuji haturkan telah mendamaikan kita dengan danyang-danyang. Kampung ini tak lagi dihajar kekeringan,”
“Iya, Ki ! benar ! saran Ki Tarmuji harus kita abadikan dalam upacara yang akan datang. Malahan harus dengan cara yang lebih baik,” sahut yang lain. Akan tetapi, saat itu hatiku kecewa mendengarnya.
“bukan lantaran sesajian hujan ini datang, bukan pula lantaran danyang-danyang memilih berdamai dengan kita,” ujarku lembut.
“kenapa bisa begitu, Ki ? pemahaman Aki pastilah salah,” raut wajah mereka terkejut.
“tidak-tidak. Pemahamanku tidak salah. Bagaimana bisa dalam sekejap kalian melupakan Lukman. Bukankah kalian yang menantangnya menyirami halaman yang kering kerontang ?!, sekarang lihatlah .. tanah kita telah basah. Gentong-gentong  persediaan air telah penuh. Tetapi sayang, kalian lupa untuk sekedar berterima kasih kepada Lukman,”
“Aduh !!” spontan mereka teringat Lukman. Ada yang menepuk dahi. Ada yang memandang tak mengerti. Mereka saling pandang.
“sekarang dimana dia, Ki ?” salah seorang bertanya dengan nada menyesal.
“aku sendiri tak tahu keberadaan Lukman. Dia meninggalkanku setelah mengajariku tata cara meminta hujan,”
“aduh ! bagaimana ini,” keluh yang lain.
“sudahlah .. jangan terlalu serius. Dia pasti kemari suatu saat. Dan lagipula yang paling penting, Lukman sudah mengajari Ki Tarmuji tata cara meminta hujan,”
“Iya ..Iya” sahut yang lain berpandangan. Mereka manggut-manggut.
Hari itu –hari yang melegakan bagi kami. Seluruh penampung air yang kami miliki dipenuhi air hujan. Lega. Ya, lega rasanya bisa mencecap karunia tak terkira. Bagi kami yang dilanda kekeringan, deraian air hujan terasa lebih berarti ketimbang hujan butiran emas dan permata.
Hari terus menggulir. Matahari dan rembulan bergantian memanjati dan menuruni orbit langit. Tanah-tanah yang tempo hari basah perlahan-lahan mengering. Cekungan-cekungan batuan yang sebelumnya terisi air hujan mulai menguap. Cadangan air di kali sebelah utara kampung tak bisa diharapkan. Kali itu telah mati.
“bagaimana jika esok hari Ki Tarmuji memimpin kami meminta hujan ?” serombongan penduduk menemuiku di beranda rumah.
“Iya, Ki. Persediaan air mulai menipis. Ritual mandi sudah dihapus. Air yang tempo hari tertampung hanya cukup untuk minum,” sahut yang lain menguatkan.
“apakah Ki Tarmuji setuju dengan usul kami ?” lanjutnya
“hmmm ..” aku terdiam untuk beberapa saat. Berpikir. Menerawang.
“bagaimana jika kita padukan adat yang kita miliki dengan cara milik Lukman, Ki” celetuk seseorang.
“maksudmu ?” pandangku kepadanya. Mengernyit.
“biar kami yang menghantar sesajian ke danyang-danyang, sementara Ki Tarmuji melaksanakan tatacara yang diajarkan Lukman. Kurasa hasilnya pasti jauh lebih memuaskan jika kedua upacara itu dilebur menjadi satu,”
“nah, bagaimana dengan usul ini, Ki ?” sambung yang lain. “Iya. Apakah Ki Tarmuji sependapat ?” yang lain menambahkan.
“hmmm .. entahlah,” ujarku keruh.
“loh, kenapa entahlah, Ki ? bukankah Ki Tarmuji pemimpin kami ? tentunya Ki Tarmuji lebih bisa mengambil keputusan dibanding kami, ya toh ?!”
“Iya,” “Iya, Ki”  spontan yang lain manggut-manggut menguatkan.
“hmmm .. kalau memang begitu yang kalian minta, baiklah, tak ada salahnya kita coba usul kalian,”
“nah !!” “begitulah seharusnya, Ki !!” “Aki memang jempolan !!”  sahut mereka bergantian. Kegirangan.
Keesokan hari, para penduduk mempersiapkan upacara penyajian. Empat ekor burung gagak, ditambah seekor ayam cemani dari ras yang paling baik –siap disembelih dan ditabur darahnya di empat penjuru mata angin. Tugasku sebagai penyembelih kualihkan kepada salah satu dari mereka. Sedangkan aku –bersibuk diri menyiapkan upacara permintaan hujan seperti yang diajarkan Lukman.

Upacara demi upacara kemudian terlewati. Aku pun berjuang sekuat mungkin mengikuti tata cara yang diajarkan Lukman. Tetapi, ah –apa benar harus keluar air mata agar mendung pembawa bulir hujan segera datang ?
Matahari kian tinggi. Terasa panas menyengat. Tetapi langit masih bersih membiru. Tak nampak secercah pun awan. Tiupan angin juga tenang. Sepoi-sepoi. Seolah alam raya bersatu padu menyembunyikan awan hujan dari bentangan cakrawala.
“bagaimana ini, Ki ?”
“bagaimana apanya ?!” sahutku bersungut-sungut ketika mereka protes kepadaku.
“sepertinya sesajian tak disentuh barang sedikit pun, lihatlah," timpal salah seorang sambil menunjuk langit
“tak mungkin langit biru seperti ini menurunkan hujan. Ki Tarmuji boleh potong telinga saya jika saya salah,” lanjutnya pongah.
“aduhh .. janganlah kau pojokkan aku dengan keluh kesahmu,” protesku.
“saya tidak mengeluh, Ki. Tapi itulah kenyataannya. Upacara yang Ki Tarmuji sarankan gagal total. Upacara yang diajarkan Lukman gagal juga. Apalagi yang harus kita berbuat ?!! meninggalkan kampung ?!!”
“ah,” “tidak bisa begitu,” “kita harus adakan upacara lagi, upacara ini tertolak,” masing-masing saling menggerutu. Keadaan ini mengesalkanku.
“tenanglah kalian, dengar kataku !!” kuangkat tangan dan suaraku sembari menenangkan. Gumaman mereka berangsur menyurut.
“kali ini kita tak punya pilihan ! Carilah Lukman sampai ketemu. Mintalah dia tinggal di kampung kita. Kalau perlu, mintalah pada Lukman sambil melata ! lakukanlah !!”
“baiklah, Ki,”,”baik” serempaklah mereka mengucap lantang.
Mereka kemudian bergerak seperti sepasukan laskar yang putus asa. Lunglai. Miskin kepercayaan. Mereka menyebar menyisir kampung. Beberapa utusan bahkan dikirim ke kampung seberang demi menemukan Lukman.
Hari kemudian berlalu. Pencarian terus dilakukan kemana-mana. Hingga di hari ke-7 setelah pencariannya, Lukman yang diburu seantero penduduk mendadak muncul di tengah kampung.   
Kusongsong Lukman sembari tergopoh. Seluruh penduduk mengerumuninya seperti tawon mengerumuni ratunya.
“Anakmas Lukman dari mana saja, kami cari kemana-mana tak juga ditemukan, eh, ujung-ujungnya malah muncul disini,” ujarku berbasa-basi.
“mohon maaf, Ki. Bukan maksud saya meninggalkan kampung ini, tetapi, tempo hari saya memiliki janji yang harus ditepati,”
“oh, begitu rupanya, hehehe “ sahutku terkekeh-kekeh. Ia tersenyum.
“begini, Anakmas Lukman. Kami sangatlah membutuhkan bantuanmu. Persediaan air tak ada lagi. Kami tak tahu harus berbuat apa,” lanjutku memelas.
“kumohon turunkanlah hujan, sekalian tinggallah di kampung ini agar kami tak kuatir kekurangan air,” kujabat erat tangannya sambil menunduk.
“bukankah Ki Tarmuji sudah saya ajarkan tata cara memita hujan,” tanyanya lembut.
“iya, sudah, Anakmas. Tetapi tak ada hasil,” jawabku pasrah.
Tiba-tiba seseorang di deretan depan mendekati Lukman. Dia kemudian memandangku seraya meminta ijin bicara. Aku mengangguk.
 “kami juga sudah menambahkan sesajian, Anakmas. Cara-cara Anakmas kami padukan dengan tata cara milik kami,”  
“Astaghfirullahal Adzim,” spontan Lukman menunduk sembari menghela nafas panjang.
“maafkan saya sebelumnya, Ki. Maafkan saya sebelumnya, Sedulur sekalian,” kata Lukman yang memandangi kami bergantian.
“semoga dengan kata-kata yang saya sampaikan ini segala sesuatunya menjadi terang,” Lukman mulai berbicara agak lantang.
“Hujan adalah karunia dari Tuhan, hanya kepada Tuhan yang Mahasuci-lah selayaknya kita meminta, jangan kepada yang lain,” Lukman sejenak menarik nafas.
“dan ketahuilah, Sedulur-sedulur. Tuhan tak membutuhkan perantara untuk dimintai belas kasihNya,”
“Tak butuh sesajian ?” terdengar teriakan dari kerumunan.
“tidak .. tidak .. sesajian ataupun makanan yang kita sesajenkan lebih baik kita gunakan membantu saudara-saudara kita yang kekurangan,”
“apakah danyang-danyang tak akan marah ?” teriakan dari kerumunan kembali terdengar.
“danyang-danyang yang sedulur sekalian percayai itu juga makhluk Tuhan, sama seperti kita. Tak sepatutnya kita meminta kepada mereka. Kita hanya patut meminta kepada Tuhan. Langsung. Tanpa perantara.”
“apakah dengan perkataan ini berarti Anakmas menjamin hujan akan datang ?” celetukan kembali terlontar dari deretan depan kerumunan. Yang lain berpandangan.
“tak ada yang bisa memastikan seluruh kejadian selain Tuhan itu sendiri. Tiada daya dan upaya yang kita miliki selain milikNya. Hanya kepada Dia-lah selayaknya kita berharap. Sepenuhnya.”
“mari saya ajak Sedulur-sedulur sekalian meninggalkan ritual penyajian kepada danyang-danyang. Makanan-makanan yang biasa disesajenkan, berikanlah kepada mereka yang membutuhkan,”
“jika selama ini Sedulur-sedulur mendatangi mata air sambil membawa sesajen, maka mulai dari sekarang, bawalah bibit pepohonan untuk ditanam disana. Sumber air itu hilang karena pohonnya ditebang. Kelak, lima –sepuluh –atau duapuluh tahun lagi, atau jika Tuhan menghendaki lebih cepat, pepohonan yang tumbuh merimbun di tempat itu akan kembali memunculkan mata air,”

Kalimat Lukman perlahan-lahan menuntun kesadaran kami. Betapa santun anak muda ini, betapa kata-katanya mampu menyentuh hati hingga relung yang paling dalam.

Dengan dipimpin Lukman, kami kemudian melaksanakan Istisqa’. Segala kepercayaan perihal danyang-danyang yang mengatur kesejahteraan –telah kami tanggalkan.
Mendung cepat menggelayut. Berkumpul. Menggantung. Dari warna putih berubah gelap. Angin bersatu menggiring mendung yang berarak di kejauhan. Matahari tak lagi nampak. Biru langit tak lagi nampak. Hingga tak lama setelah upacara Istisqa’, penciuman kami mengenali aroma air yang dihambur tiupan angin.
Kami bersuka cita. Mengeluarkan seluruh wadah yang bisa digunakan menampung air hujan. Menari. Hati dan tubuh kami menari bersuka cita. Dan demikianlah kehendak Tuhan, tak lama berselang derai hujan datang dengan derasnya.
Di tengah derai hujan yang menyimbahi kekerontangan tanah, kulangkahkan kakiku menghampiri Lukman. Kujabat tangannya sambil membungkuk hormat.
“Anakmas menyelamatkan kami sekali lagi,” ujarku tulus dan lembut.
“demi Allah tidak, Ki. Bukanlah saya yang menyelamatkan, tetapi Tuhan telah berkehendak demikian,” Lukman tersenyum. Ia terharu.
“inilah yang kusuka darimu, Anakmas. Sepertinya kesombongan tak ada tempat tumbuh di dadamu,” timpalku.
“Kumohon Anakmas Lukman, tinggallah di kampung ini. Aku dan penduduk kampung masih butuh bimbinganmu,” imbuhku.
“Iya, Ki. Insya Allah. Setelah ini marilah kita hijaukan bukit-bukit di seberang. Semoga suatu saat dilimpahi keberkahan,”
“Dan juga, Ki. Kita buat sebuah tampungan besar di sekitaran sungai kering agar mampu menampung hujan dalam jumlah besar. Semoga di waktu kekeringan bisa kita memanfaatkannya dengan bijaksana,” lanjutnya.
“Iya, Anakmas. Seluruh petunjukmu pasti kami jadikan pegangan,” sahutku
“terima kasih, Ki. Aki memang sesepuh kampung yang bijaksana,”
“ah, janganlah terlampau tinggi menyanjungku, Anakmas. Aku ini cuma lelaki tua yang mencintai kampungku,” sahutku tersipu.
“sekalian, Anakmas. Terimalah permohonan maafku mewakili penduduk kampung atas perlakuan kami tempo hari. Dulu, sebelum kedatanganmu, kampung ini didatangi lelaki yang berdandan sepertimu. Dia memperolok upacara yang kami lakukan, dia selalu saja mengata-ngatai kami dengan neraka dan siksa. Lelaki itu bernama Baidawi,”
“Baidawi ?!!” Lukman terperanjat..
“Iya. Nama lelaki itu memang Baidawi kenapa, Anakmas ?”
“ah,  tidak, Ki. Lanjutkan ceritamu,” pinta Lukman. Wajahnya menyimpan penasaran.
“Baidawi akhirnya diusir dari kampung ini. Barangkali karena itulah dia dendam dan nekat menebang pohon di sekitaran sumber air. Karena peristiwa itulah, Anakmas. Kami sedikit terganggu saat melihat dandananmu yang mirip dengan dandanan Baidawi. Sekali lagi terimalah permintaan maafku, Anakmas” lanjutku panjang lebar.
“iya, Ki. Saya juga memohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan sebenarnya –“
Kalimat Lukman tiba-tiba terputus. Wajahnya bingung. Aku menunggu.
“sebenarnya  .. Baidawi adalah kakak seperguruan saya di Ampeldenta. Sudilah kiranya penduduk kampung memaafkan kesalahannya yang sudah-sudah,”

Hari itu, di kala hujan deras menyimbahi kampung, akulah satu-satunya saksi dari semua ucapan Lukman. Pada awalnya aku terkejut mendengar pengakuannya. Tetapi, bukankah beban jiwa akan berkurang seandainya hati kita lapang melepas kesalahan orang lain.

Ah, Lukman. Anakmuda yang santun dan berbudi itu akhirnya tinggal bersama kami. Dia mengajari anak-anak mengaji. Dia juga mengajari kami arti sebuah niat dan keikhlasan beribadah. Lukman mengganti sesajian dengan sedekah kepada yang kekurangan. Dia mengganti upacara penyembelihan menjadi penghijauan hutan-hutan. Hingga kemudian,
Kuceritakanlah kepadamu akhir dari kesaksianku ini. Lukman di akhir tahun ke-2 menderita sakit keras. Tubuhnya demam tinggi berhari-hari. Segala macam ramuan obat tak menemui kemujaraban. Lukman akhirnya menemui Tuhannya di usia yang masih sangat muda –belumlah genap 27 tahun. Wasiat terakhirnya adalah –dia meminta kami menguburkannya tanpa nisan di sekitaran mata air. Kami sedih bukan kepalang. Serasa putera terbaik yang pernah dilahirkan rahim isteri-isteri kami diambil Tuhan terlalu cepat.
Dan, ada satu lagi yang harus kuceritakan agar lengkap kisahku tentang Anakmas Lukman. Suatu hari, dia bercerita kepadaku tentang alasan persetujuannya menetap bersama kami. Dia mengambil keputusan dengan alasan mencari jalan tengah bagi kebaikan banyak orang. Konon, menurut ceritanya, saat itu dia akan dijodohkan dengan puteri gurunya –setelah Sang guru lebih memilih dirinya daripada Baidawi. Lukman dianggap lebih pas meneruskan perjuangan gurunya untuk mengelola perguruan di Ampeldenta.
Tetapi Lukman menolak dengan cara yang halus. Anak muda itu lebih memilih menetap bersama kami –karena tahu jika puteri sang guru mencintai Baidawi. Lukman memilih menyingkir meski dalam hati mencintai puteri gurunya teramat sangat.
“biarlah Tuhan melapangkan jalan semua masing-masing kami, Ki. Dan, semoga Tuhan meridhai keberadaanku disini, bersama penduduk kampung, bersama Ki Tarmuji,”
“Amin, Anakmas. Amin.” begitu ucapku saat itu.
   

Surabaya, Nopember 2010

Posting Komentar

 
Top